SDM adalah Aset Terbesar Manajemen
Banyak pekerjaan-pekerjaan kecil yang dilakukan karyawan kecil. Yang kesemuanya kadang-kadang tak terlihat, sebab tersembunyi di balik sebuah kerja besar. Tapi, mereka yang bekerja di bagian keci tadi adalah penentu keberhasilan sebuah kerja besar, walaupun mungkin tak banyak yang menghargainya.
Ketika moratorium CPNS didengungkan banyak calon PNS menjadi gelisah dan berkemungkinan tidak dapat kerja. Alasan moratorium yang diwacanakan karena membengkaknya jumlah PNS sehingga menjadi tidak efisien. Yang menjadi pertanyaan bukan jumlah karyawan yang besar, tetapi bagaimana karyawan yang sudah ada dikelola dengan baik dan dihargai sehingga timbul semangat kerja yang akan berdampak pada naiknya produktivitas karyawan.
Bagi perusahaan ataupun universitas besar, karyawan adalah aset berharga yang harus dipelihara. Bacalah kisah sukes Starbuck dari warung kopi kecil, namun mampu mencapai puncak dengan lebih dari 12.000 kedai di seluruh dunia. Dari secangkir kopi seharga Rp5.000 diubah menjadi Rp 50.000 dan diminati semua kalangan tua, muda di seluruh dunia.
Ketika membuka kedai kopi di Portland, Oregon, USA, pemilik kedai kopi Starbuck sama sekali tidak bermimpi bakal punya lebih dari 12.000 kedai kopi di seluruh dunia. Namun, dengan prinsip keterbukaan dan karyawan adalah aset yang paling berharga, Starbuck mengubah hal biasa menjadi luar biasa.
Memimpin kedai kopi pada prinsipnya sama saja dengan memimpin karyawan perusahan besar atau pun karyawan universitas. Karyawan adalah manusia yang juga butuh dihargai sekecil apa pun kerja yang mereka lakukan. Jadi, prinsip semuanya penting, tidak hanya top manager dan middle manager, tidak hanya rektor, dekan dan dosen. Karyawan kecil seperti cleaning servis, satpam atau pun pegawai rendahan lainnya menjadi bagian penting dari kerja besar. Tanpa bantuan mereka, toh tidak ada yang bisa dikerjakan.
Lihat Toyota, perusahaan raksasa automobile yang begitu menghargai karyawannya dengan memberikan reward dan pujian bagi karyawan yang bersungguh-sungguh. Toyota melakukan pendekatan yang sangat manusiawi dan menempatkan karyawannya pada bagian penting dari suatu sistem, tidak hanya sekadar pekerja. Bagian yang juga penting dari manajemen adalah terbuka terhadap kritik. Kritik adalah motivasi bukan hambatan, kritik adalah masukan berharga yang tidak perlu dibayar. Jadi, terima kritik apa adanya, renungkan dan perbaiki untuk kesuksesan berikutnya.
Banyak perguruan tinggi besar di Jepang yang memperlakukan karyawannya secara terhormat, karyawan yang punya kemampuan kurang, akan dilatih agar terampil. Karyawan yang merasa dihargai biasanya akan termotivasi untuk bekerja dengan baik. Seperti Picaso melukis di atas kanvas, lukisannya terasa halus dan menawan. Jangankan karyawan, pemenang nobel Fisika tahun 2002 dari Jepang Prof Masatoshi Koshiba, ternyata punya nilai fisika dan IPA yang jeblok atau merah ketika bersekolah di SMA. Secara kebetulan, ia pernah mendengar gurunya mengatakan bahwa ia tidak mungkin belajar fisika, karena nilainya dalam mata pelajaran sains selalu rendah.
Hal ini yang menantang dan mendorong Koshiba untuk belajar fisika secara mendalam, selain ketertarikannya terhadap ilmu Fisika setelah ia membaca riwayat hidup para fisikawan dunia, seperti Albert Einstein. Ketika pertama kali ia mendaftar di Tokyo University, ia ditolak. Mungkin karena nilainya yang pas-pasan. Setelah mencoba mendaftar untuk kedua kalinya, ia diterima.
Selama kuliah, ia juga masih memperoleh nilai yang kurang memuaskan. Dengan penuh ketekunan dan kerja keras dan dorongan dari para sahabatnya, Koshiba berhasil menyelesaikan kuliah di Tokyo University pada tahun 1953 dan siapa bisa menyangka orang yang tadinya mempunyai nilai merah dalam mata pelajaran Fisika, 49 tahun kemudian meraih hadiah nobel Fisika, mata pelajaran di mana nilai nilainya waktu sekolah selalu jeblok.
Universitas besar di Jepang juga demikian, punya perencanaan yang matang tidak hanya untuk pengembangan universitas dari sisi staf pengajar, tetapi juga pengembangan karyawan pendukung. Belajar tidak hanya untuk membuat seseorang menjadi brilian, tapi belajar adalah untuk membuat seseorang menjadi lebih bijak dan manusiawi. Sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas merupakan kunci penggerak organisasi tidak hanya perusahaan, tetapi juga lembaga pemerintah termsuk perguruan tinggi. Dengan adanya SDM yang mampu menggerakkan perusahaan dengan baik, maka suatu perusahaan akan mampu berkembang dan melakukan pekerjaannya dengan efektif dan efisien.
SDM yang berkualitas tidaklah cukup untuk menjalankan kerja dalam jangka panjang. Diperlukan loyalitas pegawai terhadap bagian atau tempat di mana dia bekerja. Dengan membangun hubungan emosional antara lembaga dan pegawainya, maka seorang pegawai akan berusaha semaksimal mungkin memberikan kontribusi terbaik lembaga yang menaunginya. Tanpa adanya hubungan emosional antara lembaga dan pegawai, maka pegawai hanya menjalankan kewajibannya tanpa memberikan seluruh kemampuannya untuk lembaga. Bila kewajibannya telah dilakukan, maka dia hanya akan berjalan di tempat tanpa memberikan inovasi, kreativitas, dan ide cemerlang yang sebenarnya bisa dilakukan bila pegawai memiliki ikatan emosional yang membuat dia ingin ikut membangun dan mengembangkan perusahaan menjadi lebih baik.
Karena itu, membaur bersama karyawan, merupakan gaya managemen lembaga atau institusi yang ingin berhasil. Jargon ”SDM adalah aset terbesar perusahaan ataupun lembaga”, seharusnya tidak hanya sekadar lip service atau jargon semata tanpa ada aksi apa apa. Semoga pimpinan kita ke depan adalah orang-orang yang selalu memperhatikan bawahannya
By : Edison Munaf
